Kamis, 23 Juni 2016

Penyandraan warga samarinda 2016

INFO SAMARINDA

" "ABU SAYYAF" TIPU WARGA SAMARINDA"
(Modus Penyanderaan Minta Tebusan Rp 64,82 Miliar)

SAMARINDA. Dian Megawati kaget bukan kepalang. Rabu (22/6), sekira pukul 11.00 Wita, Mega -- sapaan akrabnya – mendapat kabar mengejutkan. Dia dihubungi melalui telepon seluler oleh orang pria yang suaranya mirip dengan suaminya, Ismail. Suara dari seberang telepon mengaku, disandera komplotan militan Abu Sayyaf. Ismail Muallim di tugboat Charles 001 yang akan pulang dari Filipina. Sebagai informasi, tugboat sebelumnya berangkat dari Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar), pada 5 Juni lalu dan membawa 13 ABK.
Selain itu, penelepon juga meminta memanggil sejumlah perwakilan pemerintahan, jurnalis untuk diberitahu kabar penyanderaan tersebut. Kabar ini segera membuat seluruh awak media lokal dan nasional berkumpul di halaman kantor PT Rusianto Bersaudara, pemilik tugboat, di Samarinda. Tampak pula, Mega bersama beberapa keluarga tujuh ABK lainnya bertemu perwakilan pihak perusahaan, sekitar pukul 14.00 Wita. Dua jam bertemu dengan petinggi perusahaan tempat di suaminya bekerja, pihak keluarga kembali pulang lantaran tak menemui titik temu soal kabar tersebut.
Kabar penyanderaan dengan cepat menggemparkan sejumlah petinggi, dari level daerah hingga nasional. Pemberitaannya pun beredar cepat di media online dan media sosial (medsos).
Keluar dari kantor, Mega langsung diadang dan disorot kamera. “Saya sudah memberikan nomor telepon yang menghubungi saya sebelumnya,” sebut perempuan 33 tahun ini. Cemas masih melanda sejumlah keluarga lain, yang anggota kerabat mereka juga disebut-sebut menjadi korban penyanderaan.
Di awal kabar Ismail disandera, Mega mengaku tak bisa bicara banyak kepada suaminya tersebut. Melalui telepon singkat tersebut, tim Abu Sayyaf meminta tebusan RM 20 juta (ringgit Malaysia) atau setara dengan Rp 64,82 miliar (kurs 1 ringgit Rp 3.297).
Mega menyebut, nomor yang menghubunginya merupakan nomor lokal dari Jakarta. “Saya panik, tidak terpikir sampai memastikan dulu,” sebut Mega. Seorang pria yang diketahui sebagai penyandera menyebutkan, kondisi Ismail dan enam rekan lainnya aman di salah satu rumah. Bahkan, saat diperhatikan lebih detail, Mega mendengar suara orang lain menggunakan bahasa Inggris dengan maksud menegaskan permintaan tebusan.
Kecurigaan Mega bertambah, sejumlah suami tetangganya yang berada satu kapal dengan suaminya tak bisa dihubungi. “Katanya hanya tujuh orang dan dibagi menjadi dua kelompok, ada yang tiga dan ada yang empat,” sebut Mega. Padahal, ada 13 orang yang berada di atas tugboat Charles tersebut. Ujar penelepon Mega, enam orang lain dibiarkan berlayar untuk memberikan kabar kepada keluarga korban.
Informasi yang dikumpulkan KPNN, keberadaan kapal yang membawa Ismail dan 12 orang lainnya dari Filipina itu berada di perairan Tarakan. Sumber informasi terpercaya KPNN mengatakan, bahwa kapal sudah berlayar menuju Samarinda. Pihak perusahaan juga sudah berkoordinasi dengan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda bahwa kapal sudah di Pulau Maratua, Berau, yang berbatasan langsung dengan perairan Malaysia. Dari pihak perusahaan, sudah berkoordinasi dengan Polda Kaltim untuk mengecek keberadaan kapal dan nomor si penelepon. “Menggunakan nomor dari Bandung dan Jakarta,” ungkap pria yang namanya enggan dikorankan tersebut.
Terpisah, Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Fajar Setiawan menerangkan, kabar penyanderaan yang dilakukan komplotan Abu Sayyaf itu tidak benar. “Pelaku diduga melakukan penipuan. Saya meminta masyarakat untuk tidak langsung memercayai kabar tersebut,” sebut Fajar. Melalui pelacakan nomor, telepon yang digunakan merupakan sindikat penipuan. Sementara itu, disinggung mengenai keberadaan para sandera, Fajar mengaku masih menyelidikinya.
Sayangnya, di dua kantor PT Rusianto Bersaudara di Jalan Telkom, Sambutan dan di Jalan Mulawarman, Samarinda Kota yang dihampiri media ini, pihak perusahaan memilih menutup diri dan menghindari awak media.
SIAP HABISI
Dari Tarakan, media ini juga memastikan kabar penyanderaan tersebut. Radar Tarakan – Kaltim Post Group -- mengonfirmasi ke Lantamal XIII Tarakan. Kabar yang didapat, informasi pembajakan tersebut adalah palsu alias hoax.
“Itu informasi palsu. Posisi kapal pada pukul 18.30 Wita berada sekitar 100 mil dari Kepulauan Maratua dan sedang bergerak menuju Samarinda,” kata Kolonel Laut (P) Djamaludin Malik, Asops Lantamal XIII Tarakan.
Sebab, setelah dilakukan tracking terhadap posisi kapal oleh pihak KSOP Samarinda, tugboat Charles 001 yang menarik tongkang Robby 152 sedang berada di perairan Indonesia.
Posisi tepatnya berada di koordinat 02.37.06 U/119.26.08 T dengan kecepatan kapal 7,5 knot haluan 218 derajat.
Kepastian ini, lanjut Djamaludin, setelah pihaknya mendapat konfirmasi dan koordinasi dari KSOP Samarinda yang melakukan track.
Hingga malam tadi, Lantamal XIII Tarakan juga melakukan koordinasi yang intens dengan pihak perusahaan, melalui Joko sebagai Kepala Operasional PT Rusianto Bersaudara.
Dijelaskan Djamaludin, setelah informasi ini beredar luas di masyarakat, petugas Lantamal langsung melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk ke Polda Kaltim untuk dilakukan penyelidikan. Dan ternyata, diketahui bahwa nomor telepon yang menghubungi Mega dan memberitakan suaminya disandera adalah nomor telepon dari operator Indonesia.
“Hasil koordinasi dengan Polda Kaltim, dan dilacak ternyata nomor tersebut adalah nomor Bandung. Setelah dicek posisinya berada di Jalan Petamburan Timur (Jakarta),” jelas Djamaludin.
Anehnya, saat dilakukan penyelidikan, penelepon gelap tersebut sempat menghubungi kembali dan memberikan nomor telepon baru untuk minta dilakukan negosiasi dengan nomor 021-0000007.
“Setelah dicek di Google ternyata ini nomor sindikat penipuan,” tegas Djamaludin.
Meski demikian, pihaknya tetap akan terus melakukan pemantauan terhadap kapal ini. Sebab, hingga malam tadi, kapal tersebut belum dapat dihubungi melalui radio karena berada di Laut Sulawesi.
“Kalau benar kapal itu disandera, sudah kita habisi saja karena berada di perairan Indonesia,” ujarnya.
Pihak TNI AL pun sudah menyiagakan beberapa KRI di Laut Sulawesi untuk melakukan pengejaran dan memastikan bahwa tugboat Charles 001 yang menarik tongkang Robby 152 benar-benar aman dari pembajak laut. (*/dra/aim/ddq/far/k15/kpnn/nha)

Sumber : http://m.samarinda.prokal.co/read/news/3810-abu-sayyaf-tipu-warga-samarinda.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar